Peran Keluarga dalam Pendidikan

Peranan Penting Keluarga Dalam Pendidikan Nilai Dan Karakter

Sebagaimana kita ketahui peranan keluarga sangatlah penting dalam pendidikan, namun pada kenyataannya, harapan orang tua masih jauh dari kenyataan. Karakter kita terbentuk dari kebiasaan kita. Kebiasaan yang terbentuk selama masa kanak-kanak dan remaja sering bertahan hingga dewasa. Orang tua dapat mempengaruhi pembentukan kebiasaan anak-anaknya, baik atau buruk. Internalisasi adalah upaya memasukkan pengetahuan (knowing) dan keterampilan untuk mengimplementasikan pengetahuan (doing) ke dalam diri seseorang hingga pengetahuan itu menjadi kepribadiannya (being) dalam kehidupan sehari-hari. “Anak-anak adalah peniru yang baik.” Ungkapan ini harus disadari oleh orang tua, agar mereka dapat lebih menjaga sikap dan tindakannya saat bersama atau bergaul dengan anak-anaknya. Berbagi contoh dalam mendidik anak sangatlah penting. Inti dari pembiasaan adalah pengulangan. Jika orang tua masuk ke rumah setiap kali menyapa, itu dimaknai sebagai upaya membiasakan diri. Jika anak masuk rumah tanpa salam, orang tua mengingatkannya untuk menyapa. Masa kanak-kanak adalah puncak kreativitas, dan kreativitas mereka perlu dipertahankan dengan menciptakan lingkungan yang menghargai kreativitas, yaitu melalui bermain.

Ketika era telah menjelma menjadi era komunikasi dan informasi yang begitu bebas dan terbuka, diperlukan tata nilai yang baik. Salah satunya dengan mengimplementasikan pendidikan Pancasila dan pendidikan karakter yang diterapkan di lingkungan keluarga. Pancasila sebagai ideologi bangsa ini harus menjiwai setiap perilaku warganya. Namun yang terjadi justru sebaliknya, seperti saat kita berselancar di media sosial, seolah-olah ada ambivalensi antara citra masyarakat Indonesia dengan kenyataan di dunia maya. Hal ini terlihat dari banyaknya ujaran kebencian yang begitu mudah ditulis oleh pengguna media sosial. Fenomena ini menyadarkan kita akan pentingnya pendidikan karakter. Pendidikan karakter akan berjalan efektif dan utuh jika melibatkan tiga institusi yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Pendidikan karakter tidak akan berjalan dengan baik jika mengabaikan salah satu institusi, terutama keluarga. Pendidikan informal dalam keluarga memiliki peran penting dalam proses pembentukan karakter seseorang. Hal ini dikarenakan keluarga merupakan lingkungan tumbuh kembang anak sejak usia dini hingga dewasa.

Baca Juga :  17 Cara Mengajar Balita yang Baik dan Benar

Pendidikan karakter saat ini menjadi harapan untuk meminimalisir dampak buruk bagi kemajuan bangsa. Dimana pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. negara. Masalah terbesar yang dihadapi suatu bangsa, termasuk bangsa Indonesia, adalah munculnya berbagai macam krisis, antara lain krisis ekonomi, politik, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, dan moral. Namun di antara sekian banyak krisis, masalah utama adalah krisis moral. Adanya krisis moral akan menimbulkan berbagai krisis lainnya. Banyak bukti yang menjelaskan terjadinya kemerosotan moral di masyarakat. Di tingkat elit, rusaknya moral bangsa ditandai dengan maraknya praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Sedangkan di tingkat bawah (rakyat) ditunjukkan dengan maraknya berbagai kejahatan di masyarakat, seperti penipuan, pencurian, penjambretan, perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan. Sedangkan di kalangan pelajar ditandai dengan maraknya seks bebas, penyalahgunaan narkoba, penyebaran foto dan video porno, dan tawuran.

Pola asuh dalam keluarga membentuk karakter anak. Karakter juga diartikan sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas pada setiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat, bangsa dan negara. Karakter dapat diartikan sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, dan kebangsaan, yang diwujudkan dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan tindakan berdasarkan norma agama, hukum, tata krama. . . , adat budaya dan estetika. Karakter adalah perilaku yang tampak dalam kehidupan sehari-hari baik dalam sikap maupun tindakan. Menurut Licconi (2013: 82), karakter yang baik terdiri dari mengetahui apa yang baik (pengetahuan moral), keinginan untuk kebaikan (moral feeling) dan melakukan hal-hal yang baik (moral action), yang dalam penjelasannya disebut membiasakan diri dengan cara. pemikiran. , kebiasaan dalam hati dan kebiasaan dalam tindakan. Orang tua zaman sekarang sangat memperhatikan sekolah yang bagus dan bergengsi untuk membentuk anaknya menjadi anak yang cerdas, cerdas dan berkarakter.

Baca Juga :  15 Gangguan Mood Pada Anak yang Harus Diwaspadai

Cerita memiliki daya tarik yang menyentuh anak, dengan bercerita orang tua dapat menanamkan nilai-nilai pada anak-anaknya, agar dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Nasehat adalah kata-kata yang menyentuh hati, diikuti dengan keteladanan. Nasehat tersebut memadukan metode pengajaran dan keteladanan, namun lebih fokus pada bahasa hati. Memberi rasa syukur kepada anak penting dilakukan, karena pada dasarnya setiap orang membutuhkan rasa syukur dan ingin dihargai. Selain reward, juga dapat diterapkan penalti untuk membentuk karakter anak. Penghargaan harus didahulukan dari pada hukuman. Dari berbagai kendala tersebut, orang tua harus selalu meningkatkan pengetahuan dan usahanya, serta harus lebih mengenal anaknya agar pembentukan karakter anaknya berhasil. Pendidikan karakter ini tidak akan berjalan dengan baik dan tidak akan berarti apa-apa jika keluarga menyerahkan tanggung jawab pembentukan karakter kepada sekolah saja. Peran keluarga dalam pengasuhan anak sangat besar, keluarga merupakan unsur terkecil dalam masyarakat, anak belajar dari keluarga untuk berperilaku dan bertindak sebagai anggota masyarakat yang bermartabat. Peran keluarga mempunyai peranan penting, sehingga proses pada setiap jenjang, jalur dan jenis pendidikan, serta pengembangan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berperan peran penting. sehat, terdidik, cakap, kreatif, mandiri dan bertanggung jawab.

About administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published.